Pengembangan Potensi Diri 12 Tahun, Buahnya ing Madya Mangun Karsa??

Berdasarkan penelitian Indonesia Career Center Network (ICCN) tahun 2017, diketahui sebanyak 87℅ mahasiswa Indonesia mengakui bahwa jurusan yang diambil tidak sesuai dengan minatnya. Dan 71,7℅ pekerja memiliki profesi yang tidak sesuai dengan pendidikannya.

Padahal dalam Undang-Undang (UU) Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang dimaksud  pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Pasal 1 ayat 1).

Seluruh lembaga pendidikan di Indonesia mulai dari dasar sampai perguruan tinggi sudah barang tentu mengerti pasal tersebut dan bersinergi untuk mencapainya bukan?

Namun entah ada kendala apa dalam pelaksanaannya, setelah belasan tahun UU tersebut ditetapkan mahasiswa yang sudah belajar 12 tahun mulai dari SD sampai SMA/K, yang semua lembaga itu tau bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi diri, namun ketika lanjut perguruan tinggi 87℅ mahasiswanya salah jurusan. Loh bukankah 12 tahun itu dilatih juga pengendalian diri dan kecerdasan?

Salah jurusan dengan apapun faktor yang melatarbelakanginya itu bisa jadi beban, pelajaran, perjuangan, yang dominasinya tidak menyenangkan. Entah bagaimana bahagia dalam belajar jika Prodi yang dijalani tidak sesuai minatnya, entah bagaimana bisa jadi ahli sesuai Prodinya.

Maka jangan heran jika etos hasil lebih dominan daripada etos kerja. Joki tugas bahkan skripsi adalah rahasia umum yang menjadi pilihan solusi. Semua ingin lulus tapi tidak semua menikmati proses belajarnya, belajar sangat mungkin jadi tidak menyenangkan dan membebani, fungsi pendidikan dalam Bab II Pasal 3 UU no 20 tahun 2003 berpotensi terkhiyanati.

Padahal taman siswa yang digagas Ki Hajar Dewantara itu menyenangkan, namun sekarang hanya tut Wuri handayani lah yang sering digaungkan, di praktikan, dan jadi patokan,  ing madya Mangun karsa dilakukan mandiri, dan setiap pelajar harus pandai memfilter sendiri untuk ing ngarsa sung tuladha.

“Apapun kesulitannya mahasiswa harus ingat bahwa ia adalah segelintir orang yang mendapat kesempatan istimewa dimana tidak semua orang bisa menjadi ia.” Tenang saja mahasiswa mulai pandai menjadi ing madya Mangun karsa bagi dirinya sendiri. Selain mahasiswa, jangan risau, karena Feby dan Fiersa telah mewakili ” tak perlu khawatir ku hanya terluka..” 

 

(DNR)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *